Jejakkasus211.id, KARIMUN — PT TIMAH (Persero) Tbk terus mendukung pemberdayaan masyarakat di daerah pesisir dengan memperkuat mata pencaharian nelayan. Salah satu upaya tersebut adalah melalui penyediaan peralatan penangkapan ikan kepada Asosiasi Nelayan Desa Sawang di Kecamatan Kundur Barat, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau.
Bantuan berupa jaring ikan tersebut akan digunakan oleh kelompok nelayan untuk menangkap ikan biang dan ikan lome. Sebanyak 30 nelayan menjadi penerima bantuan dari PT TIMAH.
Bantuan tersebut diharapkan dapat meningkatkan hasil tangkapan ikan sebagai sumber pendapatan utama para nelayan. Hal ini sangat penting mengingat penerima bantuan tersebut adalah nelayan tradisional.
Ketua Asosiasi Nelayan Desa Sawang, Jumari, mengatakan bahwa bantuan tersebut sangat bermanfaat bagi para nelayan, terutama di tengah ketidakpastian hasil tangkapan ikan.
“Alhamdulillah, kami menggunakan bantuan dari PT TIMAH untuk membeli jaring ikan bagi para nelayan. Jaring tersebut dibeli sesuai kebutuhan nelayan, yaitu untuk menangkap ikan biang dan ikan lome,” kata Jumari.
Ia menjelaskan bahwa Asosiasi Nelayan Desa Sawang memiliki lebih dari 100 anggota. Namun, untuk bantuan ini, asosiasi tersebut memprioritaskan 30 nelayan yang aktif melaut dan bergantung terutama pada hasil tangkapan mereka untuk mata pencaharian mereka.
Menurut Jumari, mayoritas nelayan di Desa Sawang adalah nelayan tradisional yang menggunakan perahu kecil sebagai alat utama mereka untuk menangkap ikan di perairan sekitar Kundur Barat.
Hasil tangkapan yang tidak pasti juga menyebabkan pendapatan nelayan berfluktuasi. Ketika hasil tangkapan melimpah, nelayan dapat memperoleh penghasilan yang lebih baik. Namun, ada kalanya mereka pulang dengan hasil tangkapan yang terbatas.
“Sebagian besar nelayan di sini masih merupakan nelayan tradisional. Mereka menggunakan perahu kecil untuk mencari nafkah di laut. Hasil tangkapan mereka juga tidak dapat diprediksi. Ketika hasil tangkapan lebih besar, pendapatan mereka tentu saja lebih baik,” katanya.
Jumari mengatakan jaring ikan tersebut diminta karena para nelayan membutuhkan peralatan penangkapan ikan yang layak. Beberapa jaring yang mereka gunakan sudah rusak karena sering digunakan.
Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa membeli jaring baru cukup mahal bagi nelayan. Biaya satu jaring, termasuk upah pekerja, bisa mencapai sekitar Rp500.000. Melalui bantuan ini, setiap nelayan menerima kurang lebih lima jaring.
“Membeli satu jaring, termasuk biaya tenaga kerja, bisa menghabiskan hampir Rp500.000. Sekarang, setiap nelayan bisa mendapatkan lima jaring. Ini sangat membantu karena banyak jaring lama yang sudah rusak,” jelasnya.
Ia mengatakan bahwa kebutuhan akan peralatan penangkapan ikan sangat mendesak bagi para nelayan. Dengan jaring baru, mereka dapat melakukan kegiatan penangkapan ikan dengan lebih efektif.
“Dengan jaring baru, ikan lebih mungkin tertangkap. Jadi, kami berharap ini dapat membantu meningkatkan hasil tangkapan nelayan. Kami sangat membutuhkannya. Bukannya kami tidak mampu membelinya sendiri, tetapi masih banyak kebutuhan lain yang harus diprioritaskan. Selain itu, hasil tangkapan nelayan tidak dapat diprediksi,” katanya.
Menurutnya, keberadaan aktivitas perusahaan dan mata pencaharian masyarakat pesisir dapat berjalan beriringan jika dibangun di atas komunikasi dan sinergi.
“Saya memilih untuk tetap berpikir positif. Kundur Barat juga merupakan daerah tempat para nelayan mencari nafkah. Jika semua orang dapat saling memahami, menghindari campur tangan satu sama lain, dan memiliki niat untuk membantu, kita seharusnya dapat bekerja sama dan menciptakan sinergi,” katanya.
Ia berharap dukungan yang diberikan oleh PT TIMAH akan terus bermanfaat bagi masyarakat sekaligus mendorong sinergi yang lebih kuat antara perusahaan dan masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya.
“Semoga perusahaan ini terus tumbuh dan maju sehingga dapat memberikan kontribusi bagi negara dan masyarakat, sehingga kita semua dapat memperoleh manfaat bersama,” pungkasnya. (JK212.Red) Narasumber Dari Humas PT Timah
