Monumen Mihrab Menjadi Landmark Desa Cupat Seiring Dukungan PT TIMAH terhadap Pengembangan Fasilitas Umum

Monumen Mihrab Menjadi Landmark Desa Cupat Seiring Dukungan PT TIMAH terhadap Pengembangan Fasilitas Umum

Spread the love

Jejakkasus212.id, BANGKA BARAT — Sebagai bagian dari upaya mendukung pembangunan daerah di sekitar wilayah operasinya, PT TIMAH (Persero) Tbk terus mendukung pengembangan fasilitas umum dan infrastruktur, termasuk di Desa Cupat, Kecamatan Parittiga, Kabupaten Bangka Barat.

Salah satu kontribusi PT TIMAH adalah pengembangan kawasan Monumen Mihrab, yang telah menjadi salah satu landmark Desa Cupat. Sebelumnya, PT TIMAH juga mendukung pembangunan Monumen Mihrab.

Fasilitas ini kini sedang dikembangkan lebih lanjut melalui perbaikan monumen yang mengalami kerusakan, serta peningkatan area taman di sekitarnya agar lebih terorganisir dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Dengan dukungan PT TIMAH, area Monumen Mihrab diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai penanda desa tetapi juga sebagai ruang publik yang memberikan manfaat lebih besar bagi warga.

Kepala Desa Cupat, Gegha Khris Kharishma, mengatakan bahwa pembangunan Monumen Mihrab tidak hanya bertujuan untuk memperbaiki tampilan fasilitas yang ada, tetapi juga untuk mengubahnya menjadi ruang publik yang lebih terorganisir yang dapat bermanfaat bagi masyarakat.

PT TIMAH membangun monumen ini beberapa tahun lalu. Sekarang, kami membuatnya lebih menarik lagi, termasuk memperbaiki bagian yang rusak dan mengembangkan area sekitarnya menjadi taman dengan dukungan dari PT TIMAH,” kata Gegha.

Menurutnya, taman yang mengelilingi monumen tersebut memiliki tujuan yang lebih luas. Selain memperindah tampilan area di depan kantor desa, taman tersebut diharapkan dapat mendorong warga untuk lebih sadar dan peduli terhadap lingkungan sekitar fasilitas desa.

Gegha menjelaskan bahwa Monumen Mihrab terletak di sepanjang jalan yang berkelok-kelok dan dianggap berpotensi berbahaya bagi pengguna jalan. Oleh karena itu, pembangunan taman ini juga diharapkan dapat mendorong pengemudi untuk memperlambat kecepatan saat melewati area tersebut, sehingga membuatnya lebih aman.

“Area ini rawan kecelakaan karena tikungan di jalan. Dengan adanya taman ini, kami berharap pengemudi akan memperlambat kecepatan saat melewatinya, sehingga area ini juga menjadi lebih aman,” katanya.

Gegha mengatakan Monumen Mihrab memiliki makna khusus bagi Desa Cupat dan diharapkan menjadi salah satu landmark desa. Bentuk monumen tersebut, yang menyerupai ember pengeruk tambang, mencerminkan sejarah panjang daerah tersebut dengan kegiatan penambangan timah.

“Kami berharap Monumen Mihrab ini akan menjadi ikon Desa Cupat. Bentuknya juga melambangkan ember pengeruk tambang, yang terkait erat dengan sejarah penambangan timah di daerah ini,” jelasnya.

Ke depannya, pemerintah desa juga menjajaki peluang untuk mengembangkan wilayah tersebut menjadi ruang publik yang lebih produktif. Salah satu inisiatifnya melibatkan kelompok perempuan setempat melalui pengembangan Kebun Tanaman Obat Keluarga (TOGA).

“Ke depannya, kami berharap anggota kelompok Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dapat membantu memelihara dan mengembangkan kebun ini. Misalnya, mereka dapat membuat kebun tanaman obat sehingga area ini tidak hanya menjadi kebun biasa, tetapi juga memberikan manfaat praktis bagi masyarakat,” ujarnya.

Gegha percaya bahwa pengembangan area Monumen Mihrab akan memberikan manfaat yang lebih besar daripada hanya membiarkan monumen itu berdiri sendiri. Dengan tambahan taman dan ruang terbuka, area tersebut dapat menjadi tempat yang lebih menarik bagi warga untuk dikunjungi.

“Kami sangat berterima kasih atas dukungan ini karena jika hanya berupa monumen, penggunaannya tentu akan terbatas. Dengan adanya taman, area ini pada akhirnya dapat menjadi daya tarik wisata atau tempat berkumpul bagi masyarakat,” katanya.

Bagi Gegha, taman ini juga merupakan cara untuk menumbuhkan rasa kepemilikan di antara warga terhadap fasilitas di lingkungan mereka. Ia percaya bahwa ketika masyarakat terlibat dalam memelihara dan merawat fasilitas umum, pembangunan berkelanjutan akan lebih mudah dicapai.

“Ketika ada taman, orang-orang dapat membantu merawatnya dan mengembangkan rasa kepemilikan. Ketika setiap orang merasa bertanggung jawab untuk memeliharanya, secara alami akan ada rasa tanggung jawab yang lebih kuat. Warga juga dapat membantu mengawasi area tersebut,” katanya.

Ia menyampaikan apresiasinya atas dukungan PT TIMAH dalam mengembangkan fasilitas umum dan infrastruktur di Desa Cupat. Menurutnya, dukungan Perusahaan membantu pemerintah desa mengoptimalkan fasilitas yang memiliki nilai sejarah serta manfaat praktis bagi masyarakat.

Monumen Mihrab bukanlah satu-satunya fasilitas di Desa Cupat yang memiliki hubungan sejarah dengan PT TIMAH. Kantor Desa Cupat juga memiliki sejarahnya sendiri. Bangunan yang saat ini digunakan sebagai kantor desa dulunya adalah rumah sakit milik PT TIMAH.

“Kantor desa ini dulunya adalah rumah sakit milik PT TIMAH. Sekarang, kami telah mengoptimalkan bangunan ini sebagai kantor desa dan fasilitas pelayanan publik untuk masyarakat,” kata Gegha.

Ia berharap sinergi antara pemerintah desa, masyarakat, dan Perusahaan akan terus berlanjut dalam mengembangkan fasilitas dan infrastruktur desa.

Melalui pengembangan Monumen Mihrab dan area sekitarnya, Desa Cupat tidak hanya berupaya meningkatkan penampilannya tetapi juga mengembangkan fasilitas yang memiliki banyak fungsi, termasuk sebagai ruang sosial, langkah pengamanan jalan, area publik, dan potensi destinasi wisata. (JK212.Red) Narasumber Dari Humas PT Timah 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *